Jaleha
Pada tahun 1980, tanggal 24 Juli disebuah desa yang sangat kecil dan tertinggal bernama Teluk Gelam, lahirlah seorang bayi perempuan. Bayi tersebut adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara dan diberi nama Jaleha. Ia dibesarkan ditengah keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya tak memiliki pekerjaan tetap. Kadang pekerjaannya menangkap ikan dengan jala atau BELAT (terbuat dari bambu–bambu yang di potong sebesar jari) atau menangkap udang dengan BUBU ( terbuat dari bambu dan daun nipah ) yang hasil tangkapan ikan atau udang yang besar dijual sedangkan untuk makan di rumah dipilihlah ikan atau udang yang kecil –kecil. Pekerjaan lain yang dilakukan oleh ayahnya dengan silih berganti adalah menjual buah–buahan milik orang lain jika musim buahan. Atau mengambil getah pohon karet yang dibekukan baru kemudian dijual. Sedangkan ibunya hanya mengurus anak-anaknya dirumah. Orang tuanya tidak memiliki ijazah, ayahnya hanya sekolah sampai kelas 5 SR, sedangkan ibunya sama sekali tak pernah merasakan duduk dibangku sekolah.
Begitulah kondisi keluarga Jaleha. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat ia tumbuh dalam kehidupan yang keras. Tapi untunglah kerasnya hidup yang dijalaninya menjadikan ia berhasil mencapai cita – citanya yang sejak SD ingin menjadi seorang guru. Jaleha sempat duduk di 3 Sekolah Dasar. Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar di desa kelahirannya Teluk Gelam, dua tahun kemudian ikut hijrah bersama kedua orang tua di desa Sungai Rengas. Disana ia melanjutkan sekolah kelas 3 dan 4. Karena ada tempat yang lebih baik maka orang tuanya pindah ke Jl. Kom Yos Sudarso gang Dewi Sartika. Disinilah tempat awal kehidupan Jaleha yang mengantarkan ia pada cita – cita dan jati dirinya. Kelas 5 dan 6 ia lalui di SDN 68 Pontianak. Sejak ia duduk di SD kelas 5, ia mulai membantu orang bekerja. Uang yang ia dapatkan ia tabung, sehingga ia dapat membiayai sekolahnya sendiri. Pada tahun 1992 ia menyelesaikan SD, dan ia melanjutkan ke MTs. Al Ma’arif yang berada di Jl. Kom yos Sudarso Gg. Alpokat Jaya. Disinilah ia mulai mengikuti kegiatan–kegiatan sekolah, dan yang paling ia senangi adalah Pramuka. Meskipun pada pagi hari ia bekerja, siang harinya ia sekolah, ditambah kegiatan yang ia ikuti, namun tak membuat prestasinya jelek. Alhamdulillah, selama ia di MTs, ia selalu memegang ranking pertama. Begitulah tanpa terasa selama 3 tahun ia lalui sampai ia menyelesaikan studinya pada tahun 1994. Setelah menyelesaikan jenjang SMP, ia tak langsung melanjutkan ke SMA. Karena ia harus mengumpulkan biaya untuk masuk ke SMA, maka ia bekerja. Setelah 1 tahun ia bekerja, maka ia pun melanjutkan sekolahnya di MAN 1 Pontianak. disana ia juga aktif dalam OSIS, koperasi, pengajian, paskibra, dll. Di SMA inilah ia mulai mempersiapkan langkah –langkah kedepan.
Tepat pada tahun 1998, ketika perpisahan, ia mendapat kabar gembira dari guru Matematika bahwa ia lulus di jalur non ujian tulis ( PMDK ) di FKIP UNTAN Jurusan MIPA Program Studi Pendidikan Matematika. Betapa bahagianya ia, karena harapannya untuk masuk PTN di bidang keguruan khususnya Matematika dapat tercapai. Karena sejak kelas 5 SD ia sudah terbiasa membiayai sekolah sendiri, maka sampai kuliah pun Jaleha tidak pernah membebani orang tuanya. Sambil kuliah, ia tetap bekerja. Namun berbeda dari SMP dan SMA, Jaleha yang dulunya aktif di organisasi, semasa kuliah justru tak pernah bergabung dalam organisasi. Ia hanya biasa menemani dan membantu teman dekatnya yang aktif di HIMMAT, di FKMI, dsb. Karena kemana dan dimanapun Jaleha dan temannya itu selalu bersama – sama, maka banyak orang mengira bahwa Jaleha juga aktif di organisasi tersebut.
Pada tahun ke 3 di PTN, tepatnya di semester 6 Jaleha sudah mulai mengajar di sebuah SMA / MAS Al – Ishlah Pontianak. Itulah awal kali pertama ia menjadi seorang guru di lembaga formal. Karena sebelum mengajar di sekolah formal, Jaleha memang sudah menjadi seorang guru yaitu guru di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Memang Jaleha bukanlah termasuk mahasiswa yang pintar. IPK nya pun pas – pasan. Karena sejak awal, ia memang sudah menanamkan dalam jiwanya bahwa “IPK / nilai bukanlah satu – satunya ukuran bahwa seorang akan bermanfaat. Yang terpenting adalah, manakala ia menyelesaikan studinya di FKIP maka ia bermanfaat untuk orang lain / dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dimana saja. Ia lebih bangga memperoleh nilai yang pas – pasan tapi di raih dengan jalan yang benar, daripada IPK bagus tapi diraih dengan cara yang tidak jujur. “ Prinsip inilah yang sampai hari ini selalu ia sampaikan pada anak – anak didiknya, bahwa “Dimanapun kita berada, selalu ada yang mengawasi dan sekecil apapun perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawabannya.”
Barulah pada tahun 2005 ia bersama – sama dengan teman dekatnya yang bernama Urai Marini menyelesaikan studinya. Setelah ia menyelesaikan studinya, ia mengajar di SMP Ethika selain tetap mengajar di SMA & MAS Al-Ishlah dan di TPA. Hampir 2 tahun berjalan mengajar di SMP Ethika dengan memperoleh beribu – ribu ilmu dan pengalaman, akhirnya dengan berat hati ia melepaskan kewajiban mengajarnya disana. Setelah melepaskan kewajiban di SMP Ethika, ia kembali mengajar di SDIT Al Mumtaz selama 2 tahun.
Tepat pada tanggal 4 Juli 2008 Jaleha menggenapkan separoh dien-nya. Dan kembali dengan sangat berat hati ia harus meninggalkan Al Mumtaz dengan berjuta kenangan yang tak kan bisa dilupakan, karena harus konsentrasi penuh di Sekolah yang baru dirintis bersama dengan suaminya yaitu TKIT & SDIT AL KARIMA. Begitulah sekelumit cerita tentang seorang anak manusia yang bernama Jaleha, yang kini mengabdikan dirinya di SDIT Al Karima. Sebuah perjuangan panjang… yang baru dijalani 1 tahun. Kini memasuki tahun kedua…perjuangan semakin bertambah dengan dititipkannya seorang anak pada Jaleha. Tapi tak membuatnya surut melangkah, meski disana sini ujian datang. Karena ia yakin bahwa hasilnya akan ia dapatkan kelak dikemudian hari. Kalaupun tidak didunia, insya Allah perhitungan Allah di yaumil hisab nanti tak pernah keliru. Teringat akan bait sebuah nasyid :
Mengharap senang dalam berjuang …
Bagai merindu rembulan ditengah siang …
Sehingga ia sadar bahwa saat ini ia tak boleh memikirkan kesenangan. Yang harus ia lakukan adalah .. berjuang … berjuang … dan berjuang.
Kepada siapapun yang membaca tulisan ini, mohon keikhlasannya memanjatkan doa agar kami di SIT AL – KARIMA selalu diberi kemudahan dalam segala urusan, dikaruniai keikhlasan dan kesabaran dalam menjalankan amanah ini. Terima kasih.
Filed Under: Guru
Comments (2)
Bunda rere
April 8th, 2010 at 5:28 am
mg SDIT Alkarima smakin maju Amin….
Abu Kembar
August 19th, 2010 at 4:02 am
Subhannalh,
Kami sebagai orang tua siswa merasa bangga dan bahagia karena guru yang akan mengajar anak kami, adalah guru-guru yang sholehah.
Semoga anak-anak kami mempunyai akhlaq yang mulia seperti Kepala Sekolahnya.
Aminnn.
Waslkm
Leave a reply