Menjaga “Sayang” di Hatinya
Seperti biasanya, setiap sore Dinda selalu asyik menaiki sepeda barunya, mengelilingi halaman rumahnya yang sangat luas dan diteduhi pepohonan : Rambutan dan mangga.
Brukkkk!!!!, Tiba-tiba Dinda dan sepeda mungilnya terjatuh di halaman. Roda sepeda depannya menabrak batu kecil.
”Hua…aaa..Bunda….sakit..!!”, Dinda menangis kesakitan, kedua tangannya memeluk lutut kanannya, ada goresan luka di lutut kanannya.
Mendengar tangisan Dinda, sang Bunda segera menghampirinya.
”Sakit Nak?”
matanya menatap Dinda dengan penuh iba sembari mengusap kepala Dinda.
”Lutut Dinda sakit Bun…pediiiiiih”
Dinda tetap menangis, sesekali ia meringis menahan sakit lukanya.
” Masya Allah, kasihan anak Bunda, yang sabar yah Nak. Yuuk kita naik ke rumah, Bunda obati lukanya.”
Sang Bunda kemudian membersihkan dan mengobati luka Dinda dengan penuh kelembutan, tak sedikitpun kata-kata celaan untuk Dinda, dan tak sama sekali memarahinya. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan seorang ibu pada umumnya. Biasanya dalam keadaan panik seorang ibu justru mengedepankan emosinya daripada empati hatinya. Sehingga justru membuat perasaan anak tidak nyaman dan justru lebih lama menangis.
” Udahan yah Nak nangisnya, InsyaAllah lukanya segera sembuh. Besok mainnya lebih hati-hati aja yah.”
Bunda menasehati Dinda, dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
” Iya deh Bun. Trimakasih Bunda.”
Dinda membalas senyum bunda, meski tangisnya baru saja reda.
***************************************************
”Bunda…., Dinda lagi nggak teguran sama Alif ”
” Loh, memang kenapa sayang?” tanya Bunda sembari menatap wajah dinda yang cemberut menahan kesal.
” Tadi Alif menumpahkan air minum Dinda, jadinya buku gambar Dinda basah deh Bun.” jawab Dinda dengan wajahnya yang masih masam.
” Oooh…, banyak yang basah?”
” Sedikit aja sih Bun, tapi kan buku Dinda jadi jelek kelihatannya.”
Wanita yang dipenuhi rasa sayang itu, kini membelai rambut Dinda, sambil berusaha menyelami samudra ’rasa’ sang buah hatinya.
”Bunda tau perasaan Dinda sekarang, tapi Bunda yakin pasti Alif tidak sengaja melakukannya. Sama seperti Dinda tempo hari. Dinda tidak sengaja menumpahkan segelas susu di sofa kita bukan?? Apakah saat itu Bunda marah dan membenci Dinda? Nggak kan Nak? ” Bunda mencoba memberi pengertian.
Dinda hanya mengangguk, diam. Sepertinya ia mengerti dan menerima sepenuhnya apa yang telah dijelaskan Bundanya.
” Jika begitu, Dinda harus bisa memaafkan Alif yah Nak. Jadilah anak Bunda yang mudah memaafkan dan mudah meminta maaf.”
Dinda kembali menggangguk, kali ini dengan wajah yang dihiasi senyuman.:)
***********************************************************
“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain. (Dorothy Law Nolte)
Awal Maret 2010
Filed Under: Cerita Bunda
Comments (1)
Bunda 'Aisyah
March 18th, 2010 at 1:41 pm
Dari lingkungan anak-anak belajar! Jika saja anak-anak mampu berbicara secara sistematis….tentu mereka akan berbicara seperti apa yang pernah saya baca
“Jika kami dicela kami akan terbiasa menyalahkan, jika kami dimusuhi kami terbiasa menentang, jika kami dimengerti kami akan terbiasa bersabar, Jika kami diberi dorongan kami akan terbiasa percaya diri, Jika kami dipuji kami akan terbiasa menghargai, Jika kami diliputi keramahan kami akan berpendirian…..
Semoga kita diberi kemampuan untuk selalu mengungkapkan rasa sayang pada putra-putri kita baik dengan kata, bahasa tubuh dan do’a terbaik untuk mereka.
Leave a reply